Simply Complicated

Prince Charming

Ting tong!

Bel pintu apartemen bunyi.

Siapa sih orang yang bertamu jam delapan pagi gini?

simply complicated 2.jpg

Lanjutkan membaca “Prince Charming”

Iklan
Simply Complicated

When Women Support Each Other, Incredible Things Happen

If a friend is in trouble, don’t annoy her by asking if there is anything you can do.  Think up something appropriate and do it.

~ Edgar Watson Howe

HANGOVER.

Hufft. Kapan terakhir kali aku hangover? Aku sudah tak ingat. Lama sekali. Lama sebelum Rassa lahir saja aku sudah berhenti minum alkohol. Sekarang, demi mengemban tugas suci negara dari seorang Cantya aku rela membiarkan tubuhku dialiri alkohol. Beuh.

Dan pagi ini aku sukses bangun dengan kepala berat. Sulit sekali menyatukan kesadaran dengan berat beban yang sepertinya menghimpit kepalaku. Tapi aku masih cukup sadar untuk mengenali ada yang tidak sama di apartemen ini.

Gordyn yang terbuka merata di kanan kiri sisinya. Aku biasa membuka ke sisi kanan demi menghindari silau matahari pagi hari langsung mengenai mataku. Lampu di dapur juga menyala. Dan aroma telur yang menguar dari arah dapur. Ada seseorang di rumah ini selain aku. Bukan sebuah kebiasaan. Siapa? Dimar kah? Aaaah… pening semakin menggigit kuat ketika aku berusaha menyatukan potongan ingatan semalam.

simply complicated 3 Lanjutkan membaca “When Women Support Each Other, Incredible Things Happen”

Simply Complicated

A New Chapter

Otak punya kemampuan menyaring mana yang pantas diingat, mana yang tidak.

~kutipan film Malaikat Tak Bersayap

 

Memutuskan hidup dan tinggal di Jakarta adalah bukan pilihan. Ya, walau aku sadar bahwa hidup adalah sebuah pilihan. Tapi bila yang ingin kupilih adalah bersama Rassa, maka keputusan untuk menjadikan apartemen menjadi tempat tinggal adalah bukan sebuah pilihan.

Tinggal bersama Rassa, adalah impian terbesarku saat ini, tapi melihat situasi dan kondisi yang belum memungkinkan saat ini, tinggal terpisah seperti ini masih jadi pilihan terbaik dari pilihan-pilihan tidak mengenakkan yang ada. Aku belum menemukan solusi terbaik untuk mewujudkan impianku saat ini.

Aku tidak pernah SUKA Jakarta.

Aku lahir dan dibesarkan di Semarang sampai usiaku 5 tahun. Kami sekeluarga pindah ke Jakarta dan menjadikan Jakarta sebagai tempat tinggal tetap ketika karier Papa mulai meningkat. Dimutasikan ke ibukota dengan posisi jabatan strategis yang menuntut Papa untuk mobile keliling dunia. Awalnya aku dan Mama masih tinggal di Semarang. Di Jakarta toh Papa jarang dirumah. Sampai karier modellingku pun menanjak. Banyak job-job yang membuatku sulit memilih antara sekolah dan karier. Akhirnya pilihan terbaik diambil, aku pindah sekolah sekaligus pindah rumah. Bye bye rumah mungil di Erlangga, rumah nyaman penuh kenangan.

Aku tidak suka Jakarta. Tidak pernah suka Jakarta. Alasan utama adalah: TRAFFIC-nya. Aku benci kemacetan di Jakarta yang makin-makin parahnya. Ritme di Jakarta berbeda dengan aku yang terbiasa tinggal di kota dinamis macam Semarang. Belum lagi banjir yang datang seperti pemilu, lima tahunan. Tapi memang Jakarta menjanjikan banyak hal untuk mereka yang mengejar karier, uang, dan kehidupan metropolitan.

Tapi ada yang kusuka dari Jakarta: The Freedom. Salah satunya adalah orang nggak terlalu memusingkan status seseorang. Ya. Seperti statusku saat ini. Single, bukan. Sebagian orang masih dengan sinis dan tertawa pahit saat menyebut satu kata : janda! Alasan ini juga yang membuatku berani memutuskan untuk tinggal di apartemen yang lama nggak terpakai sejak Mama tinggal bersama Gavin di Canada.

Jakarta. Kesepian. Berteman dengan kenangan. Sedikit teman yang bisa disebut teman. Tapi Tuhan sayang banget sama aku. Dia kirim Cantya, pramugari cantik yang tinggal di lantai 11, sebagai teman ngeteh dan ngobrol ringan. Cantya asli Solo. Menurutku siy orang cantik yang nggak takut kelihatan jelek kecantikannya naik 300%. Begitulah Cantya. Anaknya kocak, seru, tapi juga hatinya lembut.

Pertemuan kami berawal dari ketidaksengajaan di sebuah sore yang hangat saat kami sama-sama ngeteh cantik di Kafe Groundish, sebuah kafe mungil di lantai 2 apartemen kami. Kafe Groundish awalnya terletak di ground floor. Tapi karena ramai dan bisnisnya  berkembang, Groundish pindah ke lantai 2 yang lebih keren dan touchable.

Obrolan dua perempuan ‘daerah’ yang terdampar di ibukota. Ditengah kafe yang entah tak seperti biasanya begitu penuh sore itu, membuat aku dan Cantya berbagi meja.

Berbagi cerita.

Berbagi air mata.

Berbagi tawa.

simply complicated 4 Lanjutkan membaca “A New Chapter”